Kamis, 22 Februari 2018

The Commuter: Residivis dalam Aksi

Sebuah survey yang diselenggarakan oleh yayasan amal British Heart Foundation (BHF) pada tahun 2017 menunjukkan bahwa banyak warga Inggris terperangkap jerat rutinitas keseharian. Lebih dari separuh responden survey tersebut atau tepatnya 55% mengaku memiliki sederet aktivitas yang tak pernah berubah. Sementara itu 34% responden menyatakan tidak pernah bertindak impulsif serta sebanyak 31% tidak dapat mengingat kapan terakhir kali mereka keluar dari zona nyaman. Survey tersebut paling tidak memberikan sedikit gambaran bahwa kehidupan manusia modern memang semakin monoton karena hanya terdiri dari serangkaian pengulangan. Fenomena lumrah yang mengikuti tren ini adalah keluhan akan stress menghadapi rutinitas harian serta rasa takut kehilangan kesempatan mencoba hal baru. Survey BHF itu sendiri mengungkap 45% warga Inggris takut mereka akan menyesal di kemudian hari karena tidak berani berpetualang dengan hal baru.

Akan tetapi, apakah rutinitas seburuk itu? Ternyata tidak juga. Meg Selig, seorang konselor profesional menulis di laman Psychology Today bahwa rutinitas memiliki nilai-nilai baik seperti menghemat pikiran, waktu dan tenaga kita untuk hal-hal yang lebih penting, melindungi dari tindakan yang merugikan diri sendiri, dan tentu saja membawa keteraturan yang pada akhirnya memudahkan kita untuk memprediksi masa depan. Ia pun menekankan bahwa menjalani rutinitas bukan berarti menghentikan kreativitas. Setiap waktu, kita tetap harus bisa mengizinkan ide kreatif mengubah rutinitas melalui apa yang disebutnya sebagai break the old routine sehingga memungkinkan untuk menyusun rutinitas baru. Namun bagaimana jika rutinitas harian kita diubah secara mendadak dengan cara yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya? Kisahnya tidak bisa diceritakan oleh seorang konselor, tetapi dapat disaksikan dalam The Commuter (2018).

Hidup Michael "Mike" MacCauley (Liam Neeson) adalah sebuah pengulangan kegiatan sehari-hari yang jauh dari kesan mewah. Hal itu dapat dilihat dari kebiasaannya yang tidak banyak berbeda dari masyarakat kelas menengah lain. Di usianya yang sudah kepala enam, Ia masih menanggung cicilan rumah yang terletak di pinggir kota, harus berhemat demi mengirim putranya ke universitas, dan memilih transportasi umum sebagai moda angkutan utamanya pergi dan pulang bekerja. Tanpa terasa, ia telah menjadi penumpang setia kereta komuter selama 10 tahun, waktu yang sama dengan pengabdiannya sebagai penjaja polis asuransi. Suatu hari, tanpa diduga ia diberhentikan dari pekerjannya. Tidak memiliki cukup nyali untuk langsung memberitahukan nasib sial itu kepada istrinya, ia pun pulang naik kereta komuter dengan pandangan nyalang. Di tengah perjalanannya, ia bertemu seorang wanita bernama Joanna (Vera Farmiga) yang setelah berbasa-basi menawarkan imbalan sebesar 100.000 dolar AS untuk menemukan seorang penumpang non-reguler yang membawa sebuah tas di kereta itu dan menyisipkan alat pelacak alias GPS ke tasnya. Tanpa disadarinya, Mike masuk ke arena permainan teka-teki yang akan mengubah rutinitas hariannya selama 10 tahun terakhir.

Image associéeMari kita jujur di sini. Saya rasa semua orang sudah tahu dengan pasti apa yang diharapkan dan akan didapat ketika berniat menonton film laga Neeson. Ya, tepat sekali: sensasi ketegangan yang menggerus isi perut serta adegan laga yang dikoreografikan cukup apik. Sejak kemunculannya dalam kuda hitam box office Taken (2008), Neeson memang sering dianggap sebagai jelmaan Charles Bronson masa kini. Film laga menegangkan telah memasarkan ulang nama Neeson sebagai sosok lelaki tangguh dan cerdas meski tak lagi muda. Ia bahkan menjadi langganan sutradara Jaume Collet-Serra (The Shallows, Non-Stop) untuk berlaga di film-film aksi serupa. Maka ketika mereka bekerja sama untuk yang keempat kalinya dan menawarkan The Commuter, pasangan sutradara dan aktor ini bagai dua residivis yang kembali beraksi. Mereka membawa sebuah sajian hiburan dengan kemasan baru tetapi isinya tetap sama: film laga menegangkan. Penulis naskah Byron Willinger, Philip de Blasi, dan Ryan Engle bahkan menurut saya seperti dengan terang-terangan melanjutkan kisah kepahlawanan Neeson dalam Non-Stop (2014), sehingga film ini lebih cocok diberi judul semacam Non-Stop 2. Selain itu, entah kebetulan atau tidak, Collet-Serra selalu mendapat proyek untuk mengarahkan film dengan jalan cerita bermasalah dari segi logikanya, tak terkecuali The Commuter ini. Penonton dapat dengan mudah mendeteksi lubang-lubang kelemahan ceritanya. Ingat saja bagaimana para penulis naskah merancang teori konspirasi di tubuh kepolisian di awal cerita. Seiring dengan berjalannya durasi film, penonton akan mempertanyakan tindakan beberapa polisi yang tidak sejalan dengan teori konspirasi tersebut. Tidak lupa juga adegan-adegan akhir film yang membuat kening mengernyit akibat kontradiksi dengan keterangan yang diberikan pada adegan sebelumnya.

Namun, trio penulis naskah film ini sebenarnya sempat menaburkan bumbu yang jarang ditemui dalam ramuan film laga: kritik sosial. Di film ini, para penulis naskah menyematkan dekorasi yang lebih semarak sebagai latar belakang karakter Mike jika dibanding karakter di film-film laga Neeson lain. Ia adalah seorang ayah, suami, pekerja kelas menengah, korban selamat krisis keuangan 2008, dan juga seorang teladan (menggunakan cincin pernikahan sebagai senjatanya dari bermain mata dengan wanita lain, ramah dengan penumpang kereta lain, dan seorang mantan polisi yang menutup karirnya dengan pekerjaan yang dapat dikatakan cukup biasa-biasa saja). Dengan latar belakangnya tersebut, dialog Mike dalam film ini menyerempet kritik terhadap pejabat-pejabat polisi yang korup, institusi kepolisian yang semakin tidak dapat dipercaya, hingga memberikan jari tengah kepada kaum "borjuis". Namun, karakterisasi dan dialog tersebut tidak diolah hingga menjadi warna cerita yang kuat membalut motif perilaku dan sifat Mike, karena pada adegan-adegan selanjutnya, ia hanya terlihat sibuk menerima telepon bernada mengancam, melayangkan tinjunya atau bergelantungan di bawah lantai kereta.

Satu hal yang saya apresiasi dari karya ketiga penulis naskah film ini adalah mereka dengan efektif menggunakan dilema moral untuk memantik konflik. Mereka mengajak penonton untuk simpati pada karakter Mike. Mike yang kini pengangguran ditawarkan uang dalam jumlah besar oleh orang asing hanya untuk melakukan hal "kecil". Walau tidak jelas untuk apa orang asing itu meminta pertolongannya, sebenarnya sah-sah saja jika ia hanya fokus pada uang yang dapat digunakan untuk membiayai kuliah putranya, mengepulkan dapur rumahnya selama ia tidak bekerja, atau membayar cicilan rumah. Namun, sebagaimana pada film laga umumnya, tentu penulis naskah ingin menciptakan tokoh pahlawan yang seratus persen bersih dari cacat moral. Ditambah lagi penulis naskah memadukan alur Taken dalam film ini dengan mencekoki Mike pada ancaman keselamatan keluarganya. Sehingga kita tidak akan terkejut jika mendapati jalan cerita selanjutnya seperti dalam sebuah film berjudul Non-Taken, di mana Mike akan lulus "tes moral" dan berjuang (baca: beradu jotos di dalam kereta) untuk membela kebenaran. Naskah The Commuter yang menggunakan dilema seperti ini membuat penonton terserap ke sudut pandang Mike, namun di saat bersamaan juga tahu persis bahwa pada akhirnya tokoh tersebut pasti akan disanjung karena aksi positifnya.

Image associéeDari sisi penyutradaraan, saya rasa saya harus menyebut Collet-Serra memberikan sentuhan berbeda di sini. Jujur saja, saya tidak mempersiapkan diri untuk menyaksikan adegan-adegan pembuka film yang dapat dikatakan cukup sentimental. Rutinitas Mike dan keluarganya dipampang dalam tampilan gambar yang hampir seperti mimpi, dan penonton diposisikan seolah-olah mengintip dari lubang kunci pintu. Hari-hari berlalu dengan kegiatan yang sama tetapi dengan berbagai detail komunikasi antarkeluarga yang berbeda: terkadang ceria, marah, sedih, atau jenaka. Entah saya yang terlalu sensitif atau memang ada yang mengalami hal serupa, saya bahkan hampir merasa ada aura Mr. Frederikson dari adegan supersedih Up (2009) di sini, tetapi dengan nuansa yang lebih duniawi (mundane). Adegan pembuka tersebut menjadi satu-satunya hal yang saya bawa pulang dari bioskop dalam kepala saya.

Pada adegan-adegan selanjutnya, disadari atau tidak Collet-Serra telah membuai penonton dengan nuansa seperti dalam novel Agatha Christie Murder on the Orient Express. Para penumpang kereta memiliki cerita masing-masing dan dibuat sedemikian rupa hingga terkesan menyimpan rahasia. Namun sebagaimana halnya dengan kritik sosial yang tidak pernah benar-benar dikembangkan, teka-teki para penumpang tersebut juga dibuat serbatanggung. Ini tentu saja berakar dari naskah film yang ingin menjamah banyak tema tetapi sadar bahwa yang menjadi inti cerita adalah aksi pendekar kawakan melawan penjahat. Sehingga tidak bisa disalahkan sepenuhnya bila ruang gerak Collet-Serra untuk menciptakan suasana penuh teka-teki dari para penunmpang kereta menjadi terasa dibuat-buat. Setiap penumpang yang dicurigai oleh Mike tidak memiliki cukup dimensi untuk meyakinkan penonton mereka pantas dicurigai lebih lanjut.

Lain lagi dengan sentuhan  Hitchcock yang ditata cukup rapi di film ini. Bersumber dari naskah yang memanfaatkan dilema moral sebagai pemicu konflik, Collet-Serra cukup berhasil mengeksekusi narasi tersebut menjadi serangkaian paranoia. Sejak adegan "tes moral" dimulai, Collet-Serra dengan apik menyusun adegan-adegan lanjutan yang menonjolkan keresahan. Mike diperlihatkan berpindah dari satu gerbong ke gerbong lain sambil meneliti dan berpikir apa yang dapat ia lakukan atau gunakan sebagai petunjuk memecahkan teka-teki. Penonton seolah hadir di dalam kereta dan mengikuti langkah takut dan cemas Mike dalam menghadapi situasi yang membahayakan. Penerapan gaya Hitchcock oleh Collet-Serra juga didukung dengan adanya beberapa metafora. Misalnya tokoh misterius Joanna tampak sebagai perwujudan dari mimpi siang bolong Mike. Setelah dipecat secara tiba-tiba, tawaran mematikan Joanna adalah fatamorgana di mata Mike. Mengikuti fatamorgana sama saja bunuh diri karena akan menghabiskan banyak tenaga secara sia-sia, tetapi fatamorgana juga menjadi motivasi besar bagi orang yang sedang tersesat. Tempelan poster bertuliskan slogan-slogan ironis seperti "you could be home right now" dan "see something, say something" juga memperkuat kesan metafora mimpi tersebut.

Meski demikian, keahlian terbesar Collet-Serra ada pada eskalasi ketegangan. Melalui keahliannya tersebut, ia dapat membuat penonton setidaknya mempertimbangkan untuk memaafkan naskah yang sejelas kristal memiliki masalah dari segi logikanya. Dalam The Commuter, bersama dengan editor Nicholas de Toth, Collet-Serra sedikit demi sedikit menyusun adegan yang menaikkan tensi cerita. Dari mulai adegan perkelahian antara Mike dengan seorang agen FBI di ruang sempit nan mencekam, peluru-peluru terpental ke sana kemari, hingga pukulan-pukulan dengan beragam benda yang jauh dari kata senjata seperti palu dan gitar. Collet-Serra memiliki kemampuan untuk menjelajah batas-batas ruang sempit dan memanfaatkannya sebagai arena perkelahian. Hasilnya, penonton akan dibuat menahan nafas membayangkan gencatan, tekanan, dan jarak yang begitu dekat dengan musuh. Belum lagi ketika berbicara aksi berbahaya di luar gerbong yang dilakukan tokoh Mike. Collet-Serra seakan tidak puas jika menggunakan atap kereta yang lazim digunakan sebagai sasana laga. Maka, jadilah sambungan gerbong, tingkap mesin di bawah lantai, hingga badan samping kereta sebagai gelanggang akrobat sang tokoh pahlawan. Ketegangan juga berhasil diciptakan dari adegan kereta yang anjlok dari relnya. Meskipun untuk yang satu ini kita harus mafhum dengan efek visual jauh dari meyakinkan. Setidaknya dengan film laga berdana terbatas seperti kebanyakan karya Collet-Serra lainnya, kita sudah cukup puas dengan kengerian yang ditimbulkan di adegan-adegan sebelumnya. Dibantu dengan penata gambar Paul Cameron (I ADORE his work on Collateral), Collet-Serra juga dengan elok menambah kaya unsur emosi dalam film laga ini. Adegan pembuka sentimental yang saya sebut di atas misalnya, adalah kreasi cerdas penggabungan keping-keping kehidupan Mike dan keluarganya yang dibuat secara acak namun menunjukkan rutinitas yang sama di waktu yang sama. Permainan suara pun semakin membuat adegan pembuka tersebut sulit dilupakan.

Untuk urusan pemeran, saya rasa The Commuter telah membuat kesalahan dengan menggunakan aktor besar hanya untuk peran kecil yang durasinya tak sampai 15 menit di layar. Karakter Sam Neill, Farmiga, Elizabeth McGovern dapat diberikan pada aktor manapun yang bayarannya di bawah mereka. Dengan demikian film ini dapat menyisihkan lebih banyak dana untuk meningkatkan kualitas efek visualnya yang cukup menyedihkan. Sementara itu Neeson memberikan penampilan seperti biasa pada film laganya: berkharisma dengan dialog yang diucapkan sekaku Arnold Schwarzenegger di kehidupan nyata.

Sebagai penutup, saya harus mengatakan bahwa jika Neeson serius dengan perkataannya dalam sebuah wawancara bahwa ia akan gantung sepatu dari lapangan film laga, maka The Commuter adalah perhentian terakhir yang cukup bagus. Maksud bagus saya di sini adalah kolaborasi keempat Neeson dan Collet-Serra ini telah menjalankan tugasnya dengan baik: menjadi pemuas adrenaline junkies (seperti saya), menuntaskan ritual tahunan merilis film laga Neeson, dan bahkan sempat menaikkan tingkat permainan film laga Neeson dengan sentuhan sentimental yang segar dan pas. Namun, saya rasa inilah saatnya Neeson kembali ke akarnya sebagai aktor drama, dan siapa tahu Collet-Serra pun tertarik menjamah genre satu itu. Saya rasa ini pula saat saya berhenti berkata-kata karena tugas seorang penonton The Commuter adalah duduk di kursi bioskop, menikmati ketegangan laga selama 105 menit, dan menjadi lupa dengan jalan ceritanya yang begitu mirip dengan lusinan film laga lain, bahkan di antara karya sang sutradara sendiri. It's for sure entertaining, 3 out of 5 stars. Ada yang punya komentar?


Watch this if you liked:
Non-Stop (2014)

Director: Jaume Collet-Serra
Stars: Liam Neeson, Julianne Moore, Scoot McNairy
Genre: Action, Mystery, Thriller
Runtime: 106 minutes











The Taking of Pelham 123 (2009)

Director: Tony Scott
Stars: Denzel Washington, John Travolta, Luis Guzmán
Genre: Action, Crime, Thriller
Runtime: 106 minutes


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar